Senin, 19 Oktober 2020
Do'a Seorang Anak
Bekerja untuk Belajar
Setiap orang pasti memiliki motivasi tertentu dalam setiap tindakan dan kegiatan yang dilakukannya, entah itu bersifat materi maupun nonmateri. Begitu pula dalam bekerja. Orangtua kita dulu sering kali memberikan nasihat yang secara langsung memberikan motivasi kepada kita. "Nak, kamu belajar yang rajin dan tekun agar kelak bisa cepat dapat kerja dan mendapat uang yang banyak." Demikian salah satu kalimat yang mungkin pernah kita terima. Sepintas, tidak ada masalah dengan nasihat tersebut karena memang orang yang bekerja pastilah mendapatkan imbalan dalam bentuk uang. Namun, menjadikan uang sebagai satu-satunya alasan atau sebagai motivasi utama dalam bekerja, menurut saya, adalah sebuah masalah besar. Kenapa? Karena orang bisa menghalalkan segala cara dalam bekerja demi mendapatkan sejumlah uang yg diidamkannya. Dalam konteks yang berbeda, seseorang bisa merasa kecewa dan frustrasi apabila imbalan uang yang diterimanya tidak sesuai dengan harapannya. Akibatnya, ia malah menjadi malas-malasan dalam bekerja dan cenderung tidak berprestasi. Kalau begitu, apa motivasi lain yang perlu kita kembangkan selain uang? Belajar. Ya betul, belajar adalah salah satu motivasi yang sangat baik bagi siapa pun dalam posisi apa pun dan di mana pun ia berada. Apalagi bagi seorang karyawan yang masih relatif muda secara usia dan pengalaman. Sekolah atau kuliah memang mengajarkan banyak hal, namun hampir sebagian ilmu yang kita pelajari di meja sekolah/kuliah terkadang "hilang" begitu saja ketika kita masuk dunia kerja. Apalagi bila kita bekerja dalam bidang yang tidak relevan dengan bidang sekolah/kuliah dulu. Oleh karenanya, saya sering mengatakan bahwa bekerja adalah lahan belajar yang sebenarnya. Bekerja adalah dunia belajar yang sesungguhnya yang sangat penting dalam mengasah ilmu dan skill seseorang. Seseorang yang punya motivasi belajar dalam bekerja, akan cenderung ingin melakukan hal-hal sebagai berikut: - mengetahui banyak hal baru, bukan hanya bidang yang digelutinya saat ini. - mencoba banyak hal lain, dengan tujuan untuk menambah pengalaman. - secara sukarela membantu rekan kerjanya baik sesama bagian maupun berbeda departemen. - menantang dirinya sendiri untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sebenarnya. Seseorang yang memiliki motivasi belajar dalam bekerja tidak akan pernah merasa rugi, apa pun kondisi yang dialaminya, berapapun imbalan yang diterimanya dan bagaimanapun kondisi perusahaannya. Ia akan tetap menatap dengan penuh optimis dan antusias. Cara belajar terbaik adalah dengan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan atau dengan kata lain dengan cara bekerja, sebagaimana pesan dari Benjamin Franklin (seorang tokoh ternama dunia; pemimpin revolusi AS), yaitu "Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn."
Arti Sebuah Waktu
Kita semua memiliki bank seperti itu, namanya WAKTU. Setiap pagi, ia akan memberi anda pinjaman 86.400 detik yang akan hangus jika tidak digunakan pada hari itu juga. Tidak ada waktu tambahan dan tidak ada juga “uang muka” untuk pinjaman esok harinya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang tidak naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur
Agar tahu pentingnya waktu SEHARI,tanyakan pada tukang bakso yang tidak bisa jualan hari ini.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak cabang renang di Olimpiade
Kerabat Imelda, gunakan waktu anda sebaik-baiknya dan mulailah bertindak sekarang juga. Waktu adalah uang, kesempatan dan penghargaan hidup maka manfaatkan waktumu sebaik mungkin...
dari milis motivasi
Hachiko, Kesetiaan seekor Anjing
Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun
Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung
pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing.
Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan
seekor anjing kepada tuannya.
Seorang Profesor setengah tua
tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia
hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab
hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu
mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas
selalu menggunakan kereta api.. Hachiko pun setiap hari setia menemani
Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia
menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor
kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta
api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di
stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.
Musim
dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara
yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan
enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang
hangat.
Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar
ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara
yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang
jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh
yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal
di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal
dimana-mana
tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan
jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun
Shibuya bersama Hachiko. Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak
terlalu jauh dari
tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi
kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat
maupun pulang dari universitas.
Kereta api datang tepat waktu.
Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan
stasiun yang penuh dengan orang- orang yang sudah menunggu itu. Seorang
awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab
ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai
kereta kenal dengan
Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu,
Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia
kendaraan berbahan bakar batu bara itu.
Setelah mengelus dengan
kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor
naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian
balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin
mengucapkan,⤠saya akan menunggu tuan kembali.â¤
⤽ Anjing
manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan
kamu ini pulang!⤠teriak pegawai kereta setengah berkelakar.
Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,â¤guukh!â¤
Tidak
berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta
segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu.
Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya
dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta
pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju- salju yang
menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.
Di
kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas
menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai
mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya.
Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat
koridor kampus.
Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya.
Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung
segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu,
tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang
memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan
siang itu
kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali
Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal
dunia. Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan
memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan
kembali ke rumah Profesor di Shibuya..
Menjelang malam udara
semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan
menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno
sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar- mandir di sekitar balkon Hachiko
mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun
merasa iba dengan kesetiaan anjing
itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.
Malam
pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk
menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang
tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta
datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi
selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang.
Bahkan hingga esoknya, dua hari kemu dian , dan
berhari-hari
berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan
menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai
menjadi kurus.
Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko
dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari
tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah
meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.
Mereka
pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali
lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu
seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan
menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti
akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang
makan.
Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang
setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun
banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan
sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala
sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk
menunggu
tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati
itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak
kedinginan.
Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap
harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan
tuannya. Namun hari- hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena
tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas
kebersihan stasiun tergopoh- gopoh melapor kepada pegawai keamanan.
Sejenak kemu dian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh
seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing
itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang
tuannya pun terbawa sampai mati.Warga yang mendengar kematian Hachiko
segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya..
Mereka umumnya sudah
tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk
yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang
justru langka terjadi pada manusia.
Mereka begitu terkesan dan
terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemu dian membuat
sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar
patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena
masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan
oleh Hachiku saat mereka
harus menunggu maupun janji untuk datang..
Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang
tulus, yang terbawa sampai mati.
Sungguh kisah yg menggugah hati.....tak habis2nya saya meneteskan air
mata membaca cerita hidup Hachiko....
DARI MILIS MOTIVASI
Kamis, 01 Agustus 2013
PT Pura Barutama meraih penghargaan tingkat internasional
"Holography Awards 2012 Best Applied Decorative Product atau aplikasi produk dekoratif terbaik bukan sekali ini diraih PT Pura, karena sebelumnya juga pernah meraih penghargaan serupa," kata General Manager PT Pura Barutama (Pura Group) Christian Lydiarto di Kudus, Jumat.
Penghargaan bergengsi tersebut, diperoleh dari ajang kompetisi internasional dengan tema "IHMA Awards for Excellence 2012" yang diselenggarakan dalam rangka Konferensi Internasional "The Diversity of Holography" yang diprakarsai oleh International Hologram Manufacturers Association (IHMA) pada 29 Oktober 2012 di Austria Trend Hotel Savoyen, Vienna, Austria.
Kompetisi tersebut, terbagi menjadi lima kategori yang diikuti 97 perusahaan di dunia, yakni Innovation in Holographic Technology, Best Origination, Best Applied Security Product, Best Applied Decorative Product, dan The Brian Monaghan Award for Business.
Kompetisi tersebut diikuti perusahaan yang bergerak di bidang pengamanan yang mencakup produsen banknote paper, produk-produk anti pemalsuan seperti security printing, hologram, dan lain sebagainya.
Pada kompetisi tahun ini, PT Pura Barutama menggandeng PT Eigerindo Multi Produk sebagai rekanan untuk mengikutsertakan produk "Brand Tag on Fabric" dengan merek "EIGER" sebagai produk yang dilombakan.
Hasilnya, kata dia, mampu memenangkan kompetisi internasional dan menyisihkan tiga pesaing lain dari Amerika Serikat, yaitu Hazen Paper Company, AGI Shorewood, dan Wavefront Technologies yang merupakan perusahaan yang masuk nominasi "Top Four" dunia untuk kategori "Best Applied Decorative Product".
Kemenangan tersebut, merupakan prestasi keenam pada kompetisi internasional yang diselenggarakan IHMA.
Penghargaan sebelumnya, pada tahun 2001, 2005, 2006 dua penghargaan, dan 2007.
Christian menambahkan, IHMA merupakan Asosiasi Produsen Hologram se-dunia, dengan kantor pusat di London, Inggris.
Asosiasi internasional yang berdiri sejak tahun 1993 itu, kata dia, memiliki anggota 97 perusahaan di seluruh dunia.
Adapun misi dari IHMA, yakni ingin memajukan pemahaman, penggunaan, pengembangan hologram dan teknologi holografik, khususnya dalam otentikasi produk dan dokumen, dekorasi dan ilustrasi, sistem display, energi dan perbaikan lingkungan.
Produk pengaman "Holographic Brand Tag on Fabric" (pengaman hologram lamisasi pada tekstil) yang memenangkan penghargaan tahun ini, kata dia, merupakan salah satu produk inovatif yang diciptakan untuk industri garmen dan sejenisnya.
Dengan adanya hologram laminasi kain, maka proses identifikasi keaslian produk lebih mudah karena mendapat proteksi yang lebih baik dari kemungkinan pemalsuan produk.
"Produk hologram laminasi kain tersebut, dirancang secara khusus untuk memiliki daya tahan terhadap cuaca, serta dapat melalui proses jahit, dan pencucian secara manual maupun menggunakan mesin cuci tanpa mengurangi penampilannya," ujarnya.
Dengan mengedepankan kualitas dan daya tahan yang baik dari "Brand Tag on Fabric", PT Pura Barutama dapat memenuhi kebutuhan atas label pengamanan pada berbagai macam produk berbahan tekstil, seperti topi, jaket, pakaian, dompet, tas, dan produk lainnya.
Pura Group Ekspansi ke Pasar Bolivia
-
Hologram Sticker for DNFR (Direccion Nacional de Fiscalizacion y Recaudaciones La Paz)
-
Diploma for UMSA (Universidad Mayor de San Andrés)
-
Security Paper for UMSA (Universidad Mayor de San Andrés)
-
Car Sticker for Hologram for the Technical Inspection of vehicles to DNFR (Direccion Nacional de Fiscalizacion y Recaudaciones La Paz)
-
Hologram Pouch for DNFR (Direccion Nacional de Fiscalizacion y Recaudaciones La Paz)
-
Hologram Pouch for RUAT RUA (Registro Unico Automotor)











